Saturday, November 5, 2011

192. Pelaksanaan rawat gabung di rumah bersalin ...... tahun ....

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Program Pembangunan Nasional (Propenas) mengamanatkan bahwa pembangunan diarahkan pada meningkatnya mutu sumber daya manusia, yang dimulai sejak bayi dalam kandungan dilanjutkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) sedini mungkin. Pemberian ASI yang dianjurkan di tingkat internasional dan nasional adalah pemberian ASI segera (30 menit) setelah bayi lahir (Saifudin : 2002)

Tidak ada persiapan yang ibu butuhkan selama kehamilan untuk menguatkan puting ibu untuk menyusui, sebagaimana banyak dipikirkan sebagian wanita, yang terpenting adalah kesiapan untuk menyusui. Oleh karena itu untuk memberi suport bahwa ibu mampu menyusui perlu dilakukan program pemberian ASI sedini mungkin. (Susan : 2005).

Pemberian ASI sejak usia dini terkait dengan pentingnya rawat gabung untuk memudahkan pemberian ASI ekslusif sekaligus memberi dampak positif, Rawat gabung merupakan metode perawatan yang merawat bayi baru lahir disamping ibunya, hingga ibu dan bayinya dirawat dalam satu kesatuan. Tujuan yang ingin diperoleh dengan cara rawat gabung ini ialah memberi kesempatan kepada ibu mendapat pengalaman cara merawat bayinya sedini mungkin.

1

Pentingnya rawat gabung untuk memudahkan pemberian ASI, karena pemberian ASI ekslusif memberi dampak positif, hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian di RSCM yaitu “angka mortalitas bayi pada rawat pisah 0,5%, sedangkan pada rawat gabung 0,04%. Angka morbiditas bayi pada rawat pisah 17,9% sedangkan pada rawat gabung 2,13%. Dan lama perawatan pada rawat pisah 4,7 + 2,6 hari sedangkan pada rawat gabung 2,5 + 1,5 hari”. (Suharyono : 1992).

Data di Propinsi Lampung tentang pemberian ASI ekslusif pada bayi 0 – 4 bulan adalah 24,2 – 32% (Profil Kesehatan Lampung : 2006). Selanjutnya hasil pelayanan program kesehatan ibu di Lampung Timur dari 22.582 ibu bersalin diperoleh data ibu yang bersalin dengan nakes mencapai 83 %, dengan bayi lahir hidup sebanyak 87 % (19.711 bayi) dimana terdapat kematian bayi 0,5% kelahiran hidup. angka mortalitas bayi ini sama dengan angka mortalitas bayi pada rawat pisah hasil penelitian di RSCM.

Hal di atas kemungkinan disebabkan tidak terlaksana kelas ibu di Puskesmas, melihat data yang diperoleh ternyata dari 28 Puskesmas, kelas ibu di Puskesmas hanya mencapai 28,6% (8 Puskesmas) (Evaluasi Kesga Din.Kes. Lam.Tim : 2007). Tidak terlaksana kelas ibu di Puskesmas memungkinkan tidak terlaksana juga program dan kegiatan rawat gabung yang salah satunya adalah pemberian ASI ekslusif. dan boding attachment (Robinson : 2002)

Mengingat pentingnya rawat gabung agar terlaksana program ASI Ekslusif, dan boding attachment maka perlu peningkatan kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya rawat gabung pada ibu post partum, agar pelaksanaannya menjadi lebih efektif, mengingat pemberian ASI sebagai makanan paling sempurna bagi bayi sekaligus suatu upaya nyata dalam meningkatkan kesehatan dan gizi masyarakat.

Selanjutnya di Puskesmas Labuhan Maringgai dijumpai data dari 1.558 ibu bersalin diperoleh data ibu yang bersalin dengan nakes mencapai 83 %, dengan kematian neonatal bayi dan balita sebanyak 0,4% (7 bayi), namun bila dikaji lebih jauh ternyata kematian neonatal (0-7 hari) mencapai 86% ( 6 neonatus) (Evaluasi Kesga Din.Kes. Lam.Tim : 2007). Salah satu penyebab kematian pada neonatal antara lain karena pemberian ASI yang tidak adekwat. Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Indah Sukmaningsih melaporkan, berdasarkan penelitian WHO 1,5 juta bayi di dunia meninggal karena tidak diberi air susu ibu (Gloria.net : 2000).

Air Susu Ibu (ASI) telah dibuktikan dan diakui sebagai makanan utama bagi bayi baru lahir yang mampu memenuhi kebutuhan zat gizi. Menurut WHO pemberian selain ASI akan mempunyai resiko 17 kali lebih besar mengalami diare, dan 3 sampai 4 kali lebih besar kemungkinan terkena infeksi Saluran Pernafasan dibandingkan bayi mendapat ASI” (Saifuddin : 2002).

Saat pra survay di Rumah Bersalin ............ dari bulan Oktober 2006 sampai Januari 2007 diperoleh data 128 ibu bersalin dengan ibu primipara sebanyak 76%, dimana lebih dari separuhnya (54%) belum ada pengeluaran colostrum dan masih merasa takut saat merawat bayinya. (Register persalinan Rumah Bersalin Handayani : 2007)

Melihat hal di atas merupakan hal yang perlu menjadi perhatian bersama, salah satunya adalah perhatian ibu post partum, sehingga ibu post partum memahami pentingnya rawat gabung dan boding attachment dalam upaya kesehatan dan gizi yang mencakup seluruh siklus kehidupan sejak anak dalam kandungan karena terkait erat dengan kelangsungan hidup anak, perkembangan anak dan perlindungan anak. untuk itu maka penulis tertarik untuk mengetahui pelaksanaan rawat gabung di Rumah Bersalin .............

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Bagaimanakah pelaksanaan rawat gabung di Rumah Bersalin ............ 2007 ?.”

C. Ruang Lingkup

Dalam rangka penelitian ini ruang lingkup penelitian sebagai berikut :

1. Jenis Penelitian : Deskriptif

2. Subjek Penelitian : Bidan yang melaksanakan Rawat gabung di Rumah

Bersalin Handayani, Jumlahnya 3 orang yang sudah APN.

3. Objek Penelitian : Ibu Bersalin dan bayi baru lahir di R.B ……………

4. Lokasi Penelitian : Rumah Bersalin ……………..

5. Waktu Penelitian : Mei – Juni 2007

D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran Pelaksanaan Rawat gabung di Rumah Bersalin ............

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya gambaran Pelaksanaan Rawat Gabung Di Kamar Bersalin Rumah Bersalin .............

b. Diketahuinya gambaran Pelaksanaan Rawat Gabung Di Ruang Perawatan Rumah Bersalin .............

E. Manfaat Penelitian

Pada penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :

1. Bagi Peneliti

Mengetahui dengan jelas mengenai pelaksanaan rawat gabung di Rumah Bersalin Handayani dapat menambah pengetahuan dan wawasan dalam penelitian serta sebagai bahan untuk menerapkan ilmu yang telah didapat.

2. Bagi Institusi Prodi Kebidanan ................

Diharapkan hasil penelitian sebagai dokumentasi untuk dipakai sebagai bahan referensi/bacaan tentang pelaksanaan rawat gabung Bidan Praktek Swasta.

3. Petugas kesehatan, Puskesmas dan Instansi Terkait

Sebagai bahan informasi atau masukan mengenai Pelaksanaan Rawat Gabung, yang diharapkan dapat meningkatkan peran petugas kesehatan dalam memberikan informasi tentang rawat gabung sehingga pada akhirnya dapat memajukan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

4. Peneliti selanjutnya

Sebagai bahan referensi/bacaan dan sebagai bahan pertimbangan bagi peneliti di kemudian hari.

193. Gambaran pengetahuan siswa SMPN ..... tentang perilaku hidup bersih dan sehat tahun .....

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap individu. Agar terwujud derajat kesehatan yang optimal bagi semua masyarakat. Pembangunan kesehatan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan nasional. Karena kesehatan menyentuh semua aspek kehidupan manusia. Pembangunan kesehatan sangat terkait dan dipengaruhi oleh aspek demografi. Pertumbuhan ekonomi masyarakat tingkat pendidikannya, serta keadaan dan perkembangan lingkungan, baik fisik maupun biologik (Depkes RI, 2002).

Salah satu strategi kesehatan nasional dalam rangka menuju Indonesia sehat 2010 adalah menempatkan pembangunan kesehatan yang berwawasan kesehatan, artinya setiap upaya program berdampak positif dalam membentuk perilaku sehat dan lingkungan yang sehat pula. Pada tanggal 1 Maret 1999 Presiden Republik Indonesia telah mencanangkan gerakan pembangunan berwawasan kesehatan sebagai strategi pembangunan nasional untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010. Paradigma sehat tersebut dijabarkan dan dioperasionalkan antara lain dalam bentuk perilaku hidup bersih dan sehat (Depkes RI, 1999).

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah bentuk perwujudan paradigma sehat dalam budaya perorangan. Keluarga dan masyarakat yang berorientasi sehat, bertujuan untuk meningkatkan, memelihara dan melindungi kesehatannya baik fisik, mental, spiritual maupun sosial. Selain itu juga program perilaku hidup bersih dan sehat bertujuan memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, kelompok, keluarga dengan membuka jalur komunikasi, informasi dan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku sehingga masyarakat sadar, mau dan mampu mempraktekkan perilaku hidup bersih dan sehat melalui pendekatan pimpinan (advocacy), bina suasana (social support) dan pemberdayaan masyarakat (empowerment). Dengan demikian masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri terutama pada tatanannya masing-masing (Depkes RI, 2002).

Program perilaku hidup bersih dan sehat memiliki 5 program prioritas yaitu Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), gizi, kesehatan lingkungan, gaya hidup dan dana sehat/Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat (JPKM). Perkembangan program perilaku hidup bersih dan sehat sesuai dengan dinamika yang terjadi di masyarakat sesuai kondisi dan kebutuhan daerah masing-masing. Berlakunya menetapkan 9 indikator perilaku, indikator perilaku tersebut adalah tidak merokok, kepesertaan jaminan pelayanan kesehatan masyarakat, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar, menggosok gigi sebelum tidur dan olah raga, indikator lingkungan adalah air jamban ada air bersih, ada tempat sampah, ada Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) ventilasi kepadataan, lantai bukan tanah (Depkes RI, 2004).

Rokok dapat menyebabkan penyakit kanker, jantung, stroke dan paru. Hasil studi WHO menemukan bahwa kematian yang disebabkan oleh rokok diseluruh dunia dapat berlipat tiga dalam dua dekade mendatang. Sampai sekarang tercatat lebih dari 25 penyakit yang disebabkan oleh tembakau, lebih dari 60% perokok adalah laki-laki dewasa yang mulai merokok pada waktu mereka berusia kurang dari 20 tahun, remaja belasan tahun sudah mulai merokok tanpa menyadari sifat pembuat ketagihan nikotin, perilaku terus menerus merokok diantara kaum muda melalui tahap coba-coba selanjutnya menjadi perokok tetap dan akhirnya ketagihan (http://www.pd.persi.co.id, 4 Mei 2004)

Dinas Propinsi Lampung menetapkan 8 indikator di tatanan tempat-tempat umum yaitu air bersih, jamban, ada tempat sampah, saluran pembuangan limbah, pencahayaan dan pencahayaan dan penghawaa, kebersihan kuku, informasi tentang Penyakit Menular Seksual (PMS) / Aquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS), dana sehat/ JPKM, adanya media atau poster kesehatan.

Visi Dinas Kesehatan Lampung Timur "Terwujudnya pelayanan kesehatan yang bermutu dan merata serta sebagai penggerak kesehatan guna menumbuhkan daya saing masyarakat". Rumusan visi tersebut mengandung pengertian bahwa dalam kurun waktu 5 tahun yang akan datang secara bertahap Dinas Kesehatan akan mewujudkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan merata kepada seluruh lapisan masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan menuju masyarakat Lampung Timur yang sehat sehingga akan menumbuhkan daya saing masyarakat di segala bidang (Profil Dinas Kesehatan Lampung Timur, 2006).

Perilaku kesehatan di Lampung Timur yang diharapkan adalah perilaku proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit dan melindungi diri dari ancaman penyakit serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. Berbagai lapisan masyarakat yang beresiko melakukan penyimpangan perilaku hidup bersih dan sehat. Karena bila pengetahuannya masih kurang dapat meningkatkan timbulnya ancaman penyakit yang seharusnya dapat dicegah sedini mungkin dan dapat berperilaku sehat.

Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan kegiatan dari Penyuluhan Kesehatan Masyarakat (PKM). Puskesmas memiliki program kegiatan utama :

1. Kesehatan lingkungan

2. Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular

3. Peningkatan kesehatan keluarga (termasuk kesehatan reproduksi)

4. Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan

5. Keperawatan kesehatan masyarakat

6. Penyuluhan kesehatan masyarakat

7. Perbaikan gizi masyarakat

(Dinkes Propinsi Lampung, 2004).

Berdasarkan pengamatan peneliti di Puskesmas Raman Utara Lampung Timur, bahwa kegiatan penyuluhan perilaku hidup bersih dan sehat belum pernah dilakukan hasil wawancara dengan tidak adanya arsip laporan penyuluhan kesehatan masyarakat di Puskesmas Raman Utara Lampung Timur.

Observasi yang dilakukan peneliti pada tanggal 12 Maret 2007 di SMPN 2 Raman Utara Lampung Timur yang jumlah siswanya 240 orang (laki-laki 159 dan perempuan 201 orang) mempunyai fasilitas, sumur gali 1, WC siswa 2, WC guru 1, WC kepala sekolah 1, kotak sampah 12, poster kesehatan tentang rokok tidak ada, tempat cuci tangan tidak ada, WC siswa tampak kotor dan berbau tidak sedap, sampah berserakan pada tempat pembuangan sampah, ada 40 siswa merokok di lingkungan sekolah pada jam istirahat, maka tidak cuci tangan banyak yang memelihara kuku tangan, serta tidak ada yang ikut serta dana sehat /JPKM. (Koordinator UKS SMP 2 Raman Utara) 10 penyakit terbesar di Puskesmas Raman Utara adalah ISPA dengan jumlah 3777 kasus, penyakit lain-lain 2063 kasus, rematik 1348 kasus, hipertensi 952 kasus, karies gigi 632 kasus, penyakit kulit karena alergi 700 kasus, penyakit karena infeksi 615 kasus, diare 502 kasus (LB1 Puskesmas Raman Utara, 2006).

Berdasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik untuk membuat penelitian dengan judul ”Gambaran Pengetahuan Siswa SMPN ............ tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis membuat rumusan masalah penelitian sebagai berikut : "Bagaimanakah gambaran pengetahuan siswa SMPN ............ tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ?"

C. Ruang Lingkup Penelitian

1. Sifat Penelitian : Deskriptif

2. Subyek Penelitian : Siswa SMPN ............

3. Obyek Penelitian : Gambaran pengetahuan siswa SMP tentang perilaku hidup bersih dan sehat di SMPN.........

4. Lokasi Penelitian : SMPN ............

5. Waktu Penelitian : ......................

D. Tujuan Penelitian

Dapat diketahui gambaran pengetahuan siswa SMP tentang perilaku hidup bersih dan sehat di SMPN .............

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi Instansi Pendidikan SMPN ............

Sebagai bahan rujukan bagi pendidik SMPN ............, untuk melakukan penyuluhan prilaku hidup bersih dan sehat kepada para siswa dan melengkapi prasarana yang dapat menunjang keberhasilan program perilaku hidup bersih dan sehat.

2. Bagi Puskesmas

Sebagai bahan informasi dan evaluasi bagi petugas penyuluh kesehatan masyarakat untuk peningkatan promosi kesehatan melalui program penyuluhan kesehatan masyarakat untuk dapat mengenalkan perilaku hidup bersih dan sehat.

3. Bagi Peneliti Lain

Dapat memberikan masukan terhadap hal-hal yang belum terungkat dalam penelitian ini.

4. Bagi Prodi Kebidanan Metro

Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat menambah bahan riset selanjutnya.


5. Bagi Peneliti

Dapat mengetahui seberapa besar siswa SMPN ............ yang tahu dan paham serta melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat.

1. Pengetahuan Mahasiswa TIngkat II Tentang Partograf

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tolak ukur keberhasilan dari kemampuan pelayanan kesehatan satu negara diukur dengan angka kematian ibu. Setiap tahun hampir sekitar setengah juta warga dunia harus meninggal karena persalinan, sehingga dilakukannya berbagai usaha untuk menanggulangi masalah kematian ibu. World Health Organisation (WHO) melaksanakan program menciptakan kehamilan yang lebih aman (Making Pregnancy Safer Program) atau Program Gerakan Sayang Ibu (Safe Motherhood Program) yang dilaksanakan oleh Indonesia sebagai salah satu rekomendasi dari konferensi Internasional di Mesir, Kairo tahun 1994 (www.rahima.or.id). Angka Kematian Ibu (AKI) menurut Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2002-2003 sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup. Angka itu masih jauh dengan target yang ingin dicapai secara nasional pada tahun 2010 yaitu sebesar 150 per 100.000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Profinsi Lampung, 2005).

Diperkirakan 90 % kematian ibu terjadi pada saat persalinan dan kira-kira 95 % penyebab kematian ibu adalah komplikasi obstetri yang sering tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Oleh karena itu saat memberikan asuhan kepada ibu yang sedang bersalin, penolong harus selalu waspada terhadap masalah atau penyulit yang mungkin terjadi. Menunda memberikan asuhan kegawatdaruratan akan meningkatkan resiko kematian dan kesakitan ibu (Depkes RI, 2004). Pengelolaan persalinan merupakan salah satu standar pelayanan kebidanan dimana bidan harus terampil dalam memantau kemajuan persalinan dan terampil dalam melakukan pertolongan persalinan yang bersih dan aman (Standar Pelayanan Kebidanan, 2001). Salah satu alat yang dapat digunakan dalam pengawasan kemajuan persalinan adalah partograf. Partograf merupakan grafik pemantauan kemajuan persalinan yang dapat menilai kondisi janin selama persalinan kala I.

Dalam melaksanakan praktek, bidan harus mampu memberikan asuhan sesuai dengan kebutuhan terhadap wanita yang sedang hamil, melahirkan dan post partum, maupun masa interval, melaksanakan pertolongan persalinan di bawah tanggungjawabnya sendiri dan memberi asuhan pada bayi baru lahir, bayi dan anak balita dalam rangka menyiapkan sumber daya manusia atau generasi penerus yang berkualitas. Asuhan tersebut termasuk tindakan pemeliharaan, pencegahan, deteksi serta intervensi dan rujukan pada resiko tinggi termasuk kegawatan pada ibu dan anak (Depkes, 2002). Bidan sebagai pemberi asuhan dalam pemantauan persalinan harus terampil dan menguasai dalam penggunaan partograf sehingga diharapkan disetiap persalinan dapat mendeteksi kemungkinan komplikasi sedini mungkin (Manuaba, 1998).

Prodi Kebidanan ............. adalah salah satu institusi yang akan menghasilkan bidan. Dalam praktek dilapangan, modal utama bidan adalah harus mampu melakukan pertolongan persalinan yang bersih dan aman. Selain itu, bidan harus dapat memantau kemajuan persalinan untuk mendeteksi komplikasi dalam persalinan dengan sedini mungkin dengan menggunakan partograf. Belum pernah dilakukan penelitian mengenai pengetahuan mahasiswa tentang partograf di Prodi Kebidanan .............. Selain itu, penerapan materi partograf yang sudah diberikan belum pernah teruji di lahan praktek.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti gambaran pengetahuan dan mahasiswa tingkat II tentang partograf di Prodi Kebidanan ..............

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : “Bagaimanakah pengetahuan mahasiswa tingkat II tentang partograf di Prodi Kebidanan .............?”.

C. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini sebagai berikut :

1. Jenis Penelitian : Deskriptif

2. Objek Penelitian : Pengetahuan mahasiswa tingkat II tentang partograf di Prodi Kebidanan ..............

3. Subjek Penelitian : Mahasiswa tingkat II Prodi Kebidanan ..............

4. Lokasi Penelitian : Prodi Kebidanan .............

5. Waktu Penelitian : 4 Juni – 9 Juni 2007

D. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan mahasiswa tingkat II tentang partograf di Prodi Kebidanan ............. tahun 2007.


E. Manfaat Penelitian

  1. Bagi peneliti

Sebagai penerapan mata kuliah metodologi penelitian dan menambah pengalaman serta wawasan peneliti mengenai partograf.

  1. Bagi Prodi Kebidanan .............

Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan atau masukan dalam meningkatkan pengetahuan mahasiswa tingkat II Prodi Kebidanan ............. tentang partograf sehingga dapat diterapkan dalam praktek di lapangan.

3. Bagi mahasiswa

Dapat menambah pengetahuan mahasiswa tentang partograf dan diharapkan dapat diterapkan dalam praktek di lapangan.

4. Bagi pengembangan ilmu dan teknologi

Dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta dapat dijadikan sebagai acuan dalam penelitian lebih lanjut yang sejenis.

Thursday, January 15, 2009